Kamis, 16 Maret 2017

#1 Silsilah Nasab Nabi Muhammad dari Sisi Ayah

Nabi Muhammad putra Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoyyi bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nazhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan.

#2 Silsilah Nasab Nabi Muhammad dari Sisi Ibu

Nabi Muhammad putra Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Inilah silsilah Nabi Muhammad Saw yang wajib diketahui oleh setiap orang mukallaf, yaitu sampai ke Adnan.

#3 Ibu Susuan Nabi Muhammad Saw

Sudah menjadi tradisi bangsa Arab perkotaan untuk menyusukan anaknya di daerah gunung dan pedalaman dengan maksud untuk meneguhkan pendiriannya, menguatkan fisiknya dan kefasihan bahasanya.
Atas dasar inilah, Abdul Muthallib mengirimkan cucunya yang bernama Muhammad, kepada seorang perempuan Bani Saad, yaitu Halimah putri Dhuaib As-Sa’diyah untuk disusuinya.
Halimah Sa’diyah merupakan salah satu wanita yang pernah menyusui Nabi Muhammad Saw. Selain Halimah, wanita yang pernah menyusui Nabi Muhammad ialah Aminah, ibu kandungnya sendiri, kemudian Tsuwaibah Al Aslamiyyah, bekas budaknya Abu Lahab yang dimerdekakan ketika Nabi Muhammad lahir.
Halimah Sa’diyah ketika menyusui dan merawat Nabi Muhammad sering merasakan dan menyaksikan beberapa keistimewaan dan keanehan pada diri Nabi Muhammad Saw, yang belum pernah terjadi pada anak-anak lain yang pernah dia susui.
Peristiwa pengoperasian Nabi Muhammad oleh dua malaikat membuat Halimah takut dan khawatir atas keselamatan Muhammad. Apalagi dia pernah didatangi oleh orang-orang kristen Ethiopia yang meminta agar Muhammad diserahkan kepada mereka.
Atas kejadian-kejadian ini, kemudian Halimah memutuskan untuk menyerahkan kembali Nabi Muhammad kepada keluarganya.

#4 Nama Anak Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad Saw memiliki 7 anak, 3 diantaranya laki-laki dan 4 perempuan. Adapun urutan putra-putri Nabi Muhammad Saw adalah sebagai berikut : Al Qasim, Zainab, Ruqaiyah, Fatimah Az Zahra, Ummu Kultsum, Abdullah dan Ibrahim dari istrinya yang bernama Mariyah Al Qibtiyah.
  1. Al Qasim, wafat di Mekkah dalam usia 2 tahun.
  2. Zainab, menikah dengan  Abu Al ‘Ash bin Ar Robi’, anak bibinya sendiri yang bernama Halah binti Khuwailid. Dia mempunyai anak bernama Ali dan Umamah. Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah.
  3. Ruqaiyah, menikah dengan Utsman bin Affan. Ruqaiyah wafat pada waktu sedang terjadi Perang Badar, yaitu bulan Ramadhan tahun 2 Hijriyah.
  4. Fatimah Az Zahra, menikah dengan Ali bin Abi Thalib ketika masih berusia 15 tahun, sedangkan Ali berusia 21 tahun 5 bulan. Mereka dikaruniai enam anak. Tiga anak laki-laki, yaitu : Al hasan, Al Husain, Al Muhassin dan tiga anak perempuan, yaitu : Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqaiyah. Fatimah wafat 6 bulan setelah Nabi Muhammad wafat, tepatnya pada tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah.
  5. Ummu Kultsum, menikah dengan Utsman bin Affan setelah ditinggalkan oleh Ruqaiyah. Ummu Kultsum wafat pada tahun 7 Hijriyah.
  6. Abdullah, yang memiliki gelar Thayib dan Thahir. Dia wafat di Mekkah ketika masih kecil.
  7. Ibrahim, lahir pada bulan Dzulhijah tahun ke 8 Hijriyah. Ibu Ibrahim adalah Mariyah Al Qibthiyah (bangsa Mesir). Ibrahim wafat pada tahun ke 10 Hijriyah dalam usia satu tahun empat bulan. Ada juga yang mengatakan satu tahun delapan bulan.

#5 Nama Istri-Istri Nabi Muhammad Saw

Istri Nabi Muhammad Saw total semuanya ada sebelas. Ketika beliau wafat, meninggalkan sembilan istri. Sedangkan yang dua sudah wafat sebelum Nabi Muhammad wafat. Dua istri Nabi yang wafat sebelum beliau yaitu :
  1. Siti Khadijah, merupakan istri Rasulullah Saw yang pertama. Nabi Muhammad menikahi Khadijah di Mekkah sebelum beliau diutus menjadi Rasul. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, Khadijah sudah pernah menikah dengan Abu Halah dan mempunyai anak bernama Zainab dan Hindun. Sebelum menikah dengan Abu Halah, Khadijah sudah pernah menikah dengan  ‘Atiq Al Mahzumi dan mempunyai anak bernama Abdullah dan Jariyah.Rasulullah Saw membina rumah tangga dengan Siti Khadijah hingga Khadijah wafat, dan selama itu tidak kawin dengan wanita lain, kecuali setelah Khadijah meninggal dunia.
  2. Zainab binti Khuzaimah, terkenal dengan panggilan Ummu Masakin atau ibunya orang-orang miskin. Hal ini disebabkan karena beliau sangat cinta dan penuh kasih sayang kepada orang-orang miskin. Zainab mendampingi Nabi Muhammad sebagai istri hanya sekitar dua atau tiga bulan, lalu meninggal dunia.
Adapun istri Nabi Muhammad Saw yang masih hidup ketika beliau wafat itu ada sembilan. Mereka itu ialah :
  1. Aisyah, merupakan putri dari Abu Bakar Ash Shiddiq. Aisyah menikah dengan Rasulullah Saw di Mekkah pada bulan Syawal dalam usia 7 tahun. Dua tahun kemudian, yaitu ketika Aisyah berusia 9 tahun, Aisyah diajak ke Madinah, tepatnya bulan Syawal, delapan bulan setelah Hijrah.Aisyah adalah satu-satunya wanita yang ketika dikawin oleh Nabi Saw masih dalam keadaan gadis. Aisyah adalah istri yang paling dicintai Nabi Saw. Aisyah wafat dalam usia 67 tahun, pada bulan Ramadhan tahun 58 Hijriyah.
  2. Hafshah, putri dari Umar bin Khathab. Hafshah menikah dengan Rasulullah Saw setelah suaminya yang bernama Khunais As Sahimi meninggal dunia dan gugur sebagai syahid dalam Perang Badar. Hafshah menikah dengan Rasulullah Saw pada usia 20 tahun dan wafat dalam usia 60 tahun pada tahun 48 Hijriyah.
  3. Saudah, putri dari Zam’ah. Saudah adalah janda dari suami yang bernama As Sakron bin Amr, salah seorang anggota rombongan yang hijrah ke Habasyah, lalu kembali ke Mekkah dan meninggal dunia. Saudah yang janda itu dinikahi oleh Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, yakni setelah Khadijah wafat. Saudah wafat pada akhir pemerintahan Umar bin Khathab.
  4. Shofiyah, putri dari Huyai bin Akhthob seorang tokoh Bani Nadhir. Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw, Shofiyah sudah pernah menikah dengan Sallam bin Masykam, seorang Yahudi, lalu menikah dengan Kinanah. Masykam dan Kinanah adalah penyair yang terkenal.Kinanah meninggal ketika terjadi Perang Khaibar, dan Shofiyah, istrinya jatuh ke tangan kaum muslimin sebagai tawanan. Karena Shofiyah tokoh Bani Quraidhah, maka persoalannya diserahkan kepada Rasulullah Saw. Oleh Rasulullah Saw diberi dua tawaran, yaitu :
    • Merdeka dan menikah dengan Rasulullah Saw,
    • Dibebaskan begitu saja dan bisa kembali kepada keluarganya.
    Shofiyah memilih merdeka dan menjadi istri Rasulullah Saw. Ketika itu Shofiyah baru berusia 17 tahun. Setelah menikah dengan Rasulullah, banyak dari kaumnya yang kemudian masuk islam. Shofiyah wafat pada bulan Ramadhan tahun 50 Hijriyah.
  5. Maimunah, seorang putri dari Harits Hilaliyah. Maimunah menikah dengan Rasulullah Saw pada tahun ke-7 Hijriyah, dalam perjalanan Umrah Qadha. Maimunah meninggal pada tahun 51 Hijriyah dalam usia 80 tahun. Maimunah merupak wanita yang paling akhir yang dikawin Rasulullah Saw.
  6. Ummu Habibah, nama aslinya adalah Romlah putri Abu Sufyan. Dia adalah janda dari Ubaidillah bin Jahesy yang meninggal di Ethiopia. Ummu Habibah menikah dengan Rasulullah Saw pada tahun ke-7 Hijriyah dengan maskawin pemberian Raja Najasyi sebanyak 4000 dirham
  7. Ummu Salamah, nama aslinya adalah Hindun putri dari Abu Umaiyah bin Mughirah Al Mahzumi. Dia janda dari Abu Salamah, anak bibi Rasulullah Saw yang bernama Barroh, dengan empat anak. Ummu Salamah menikah dengan Rasulullah Saw pada bulan Syawal tahun ke-4 Hijriyah, ketika itu dia berusia 30 tahun. Ummu Salamah wafat dalam usia 84 tahun pada tahun 60 Hijriyah.
  8. Zainab putri Jahesy, putri dari bibi Rasulullah Saw yang bernama Umaimah. Zainab menikah dengan Rasulullah Saw pada tahun ke-5 Hijriyah. Sebelum dikawin Rasulullah, Zainab adalah istri dari Zaid bin Haritsah. Pernikahan Rasulullah Saw dengan Zainab merupakan pernikahan yang dilandasi firman Allah : “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami kawinkan kamu dengan dia.”Oleh karena itu, Zainab sering merasa bangga dengan dirinya sebagai istri Rasulullah Saw, yang dikawinkan langsung oleh Allah dengan turunnya ayat tersebut.
  9. Juwairiyah, putri dari Al Harits seorang tokoh Bani Musththoliq. Juwairiyah adalah janda Musafi’ bin Shofwan, orang yang paling semangat memusuhi islam dan paling menentang Dakwah Nabi Muhammad Saw. Musafi’, suami Juwairiyah terbunuh dalam perang Al Muraisisi dan Juwairiyah menjadi tawanan kaum muslimin, bersama beberapa kabilah dan keluarganya.Juwairiyah ingin dirinya bebas dari tawanan dengan cara menebus dirinya, lalu dia menghadap kepada Rasulullah Saw hendak meminta bantuan uang untuk menebus dirinya. Rasulullah Saw memberikan apa yang diinginkannya dan beliau menawarkan hendak mengawininya.Juwairiyah menerima tawaran dari Rasulullah Saw, lalu menikahlah keduanya. Orang-orang islam pada waktu itu banyak yang memegang tawanan Bani Mushtholiq. Sehingga ketika mereka mengetahui bahwa Juwairiyah, janda tokoh bani Mushtholiq telah dikawin oleh Rasulullah Saw, maka kaum muslimin merasa tidak pantas menawan Bani Mushtholiq. Lalu mereka  ramai-ramai membebaskan dengan cara memerdekakan mereka. Ketika Bani Mushtholiq mengetahui yang demikian itu, maka mereka berbondong-bondong masuk Islam.
Pernikahan Rasulullah Saw dengan lebih dari empat itu boleh dan itu hanya khusus untuk Nabi. Sedangkan untuk umatnya, hanya boleh menikah dengan empat istri saja.

#6 Nama Paman-Paman Nabi Muhammad Saw

Paman Nabi Muhammad Saw jumlahnya ada 12 orang, mereka itu ialah :
  1. Hamzah, dia adalah singa Allah. Hamzah ikut berjuang membela Islam dan mengikuti Perang Badar dan Uhud. Hamzah gugur syahid dalam Perang Uhud ketika dibunuh oleh Wahsyi.
  2. Abbas, dia adalah paman Nabi Muhammad Saw yang paling muda. Abbas ikut Perang Badar bersama orang-orang musyrik. Tetapi dia berhasil ditawan oleh kaum muslimin dan akhirnya menebus dirinya, kemudian masuk islam seketika itu pula.Abbas disuruh oleh Rasulullah Saw untuk menyembunyikan keislamannya dan disuruh untuk tetap tinggal di Mekkah untuk memantau segala kegiatan orang-orang musyrik. Abbas tetap menyembunyikan keislamannya hingga hari pembebasan kota Mekah. Abbas wafat pada tahun 32 Hijriyah dalam usia 88 tahun.Abu Thalib, pelindung Nabi Muhammad Saw sedari beliau berusia 8 tahun hingga besar. Abu Thalib senantiasa melindungi Nabi Muhammad Saw dari tekanan orang kafir Quraisy.
  3. Abu Lahab, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza. Abu Lahab sangat gigih dalam menentang dakwah Rasulullah Saw. Abu Lahab meninggal dunia akibat serangan penyakit sejenis cacar yang terkenal ganas dan menular.Ketika meninggal dunia, tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya. Anak-anaknya pun menjauhinya. Kemudian anak-anaknya dengan terpaksa membuat galian, karena takut dimaki oleh orang banyak.Lalu mereka mendorong mayat Abu Lahab dengan alat yang panjang hingga masuk pada galian. Setelah itu mereka melemparinya dengan batu-batu hingga galian itu penuh batu dan menutupi mayat Abu Lahab.
  4. Al Harts, putra Abdul Muthalib yang paling tua. Al Harts meninggal sebelum agama islam datang atau sebelum Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah Swt.
  5. Az Zubair, sudah meninggal sebelum Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah Swt.
  6. Jahl, nama aslinya adalah Al Maghirah.
  7. Abdul Ka’bah, sudah meninggal sebelum Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah Swt.
  8. Qutsam, meninggal dunia di waktu kecil.
  9. Dhiror, meninggal dunia pada hari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, tetapi belum sempat masuk Islam.
  10. Al Ghoidaq, nama aslinya adalah Mushab.
  11. Al Muqowwin.

#7 Nama Bibi Nabi Muhammad Saw

Adapun bibi Nabi Muhammad Saw itu ada 6 orang, mereka itu ialah,
  1. Shofiyah, saudara kandung dari Hamzah. Shofiyah wafat pada tahun 20 Hijriyah, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Baqi.
  2. Arwa
  3. ‘Atikah
  4. Ummu Hakim
  5. Barroh
  6. Umaimah
Paman Nabi Muhammad Saw yang satu ayah dan ibu dengan Abdullah, ayah Nabi ada tiga, yaitu : Abu Thalib, Az Zubair dan Abdul Ka’bah. Sedangkan bibi Nabi Muhammad yang satu ayah dan ibu dengan ayah Nabi yaitu : Arwa, ‘Atikah, Ummu Hakim, Barroh dan Umaimah.
Nabi Muhammad Saw wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 633 Masehi. Nabi Muhammad Saw wafat dalam usia 63 tahun lebih 3 hari menurut kalender Qomariyah. Sedangkan menurut kalender Syamsiyah, usia beliau 61 tahun lebih 84 hari.
Sumber:alwib.net alsilami

SEJARAH KERAJAAN PAJAJARAN 

Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda). Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) di kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Suka Bumi.

Awal Pakuan Pajajaran
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.

Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.
Sumber Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.
Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
• Prasasti Batu Tulis, Bogor
• Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
• Prasasti Kawali, Ciamis
• Prasasti Rakyan Juru Pangambat
• Prasasti Horren
• Prasasti Astanagede
• Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
• Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
• Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan
• Berita asing dari Tome Pires (1513) dan Pigafetta (1522)
Segi Geografis Kerajaan Pajajaran
Terletak di Parahyangan (Sunda). Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta).

Kondisi Keseluruhan Kerajaan pajajaran (Kondisi POLISOSBUD), yaitu Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan)

Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :
Daftar raja Pajajaran
• Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
• Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
• Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
• Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
• Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
• Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
• Rahyang Niskala Wastu Kencana
• Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
• Sri Baduga MahaRaja
• Hyang Wuni Sora
• Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
• dan Prabu Ratu Dewata.


Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.
Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan
Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Puncak Kehancuran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
Kondisi Kehidupan Sosial
Kehidupan masyarakat Pajajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman (pemain gamelan, penari, dan badut), golongan petani, golongan perdagangan, golongan yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll)

Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.

Kesimpulan
• Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda).
• Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab cerita, dan berita asing.
• Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.


Sumber:history

SEJARAH KERAJAAN PAJAJARAN


Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda). Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) di kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Suka Bumi.

Awal Pakuan Pajajaran
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.

Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.



Sumber Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
• Prasasti Batu Tulis, Bogor
• Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
• Prasasti Kawali, Ciamis
• Prasasti Rakyan Juru Pangambat
• Prasasti Horren
• Prasasti Astanagede
• Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
• Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
• Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan
• Berita asing dari Tome Pires (1513) dan Pigafetta (1522)

Segi Geografis Kerajaan Pajajaran
Terletak di Parahyangan (Sunda). Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta).

Kondisi Keseluruhan Kerajaan pajajaran (Kondisi POLISOSBUD), yaitu Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan)

Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :

Daftar raja Pajajaran
• Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
• Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
• Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
• Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
• Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
• Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
• Rahyang Niskala Wastu Kencana
• Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
• Sri Baduga MahaRaja
• Hyang Wuni Sora
• Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
• dan Prabu Ratu Dewata.


Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Puncak Kehancuran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Kondisi Kehidupan Ekonomi
Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)

Kondisi Kehidupan Sosial
Kehidupan masyarakat Pajajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman (pemain gamelan, penari, dan badut), golongan petani, golongan perdagangan, golongan yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll)

Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.

Kesimpulan
• Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda).
• Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab cerita, dan berita asing.
• Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.


Sumber:historysander.blogspot.com 

Sejarah Pembentukan Paskibraka

SEJARAH PEMBENTUKAN PASKIBRAKA

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hari Jumat 17 Agustus 1945, jam 10.00 pagi, di Jalan Pegangsang Timur 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya secara resmi, Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan oleh dua orang muda mudi dan dipimpin oleh Bapak Latifef Hendraningrat. Bendera ini dijahit tangan oleh ibu Fatmawati Soekarno dan bendera ini pula yang kemudian disebut Bendera Pusaka..


Menjelang peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 2, Presiden Soekarno memanggil salah seorang ajudan beliau, yaitu bapak Mayor (L) Hussein Mutahar dan memberikan tugas untuk mempersiapkan dan memimpin Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1946 di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itu, Bapak Hussein Mutahar mempunyai pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, maka pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda se Indonesia. Kemudian beliau menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri dari 3 orang putrid dan 2 orang putra perwakilan daerah yang ada di Yogyakarta untuk melaksanakan tugas tersebut. Salah satu pengibar tersebut adalah Titik Dewi pelajar SMA yang berasal dari Sumatra Barat dan tinggal di Yogyakarta.


Pengibaran Bendera Pusaka ini kemudian dilaksanakan lagi pada peringatan Detik detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1947, 17 Agustus 1948, dan tanggal 17 Agustus 1949 di depan Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Pada tanggal 28 Desember 1949 Presiden Soekarno kembali ke Jakarta untuk mengaku jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat, dan pada saat itulah Bendera Sang Saka Merah Putih juga dibawa ke Jakarta.


Untuk pertama kali peringatan hari Proklamasi Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1950 diselenggarakan di Istana Merdeka Jakarta. Bendera Pusaka Merah Putih berkibar dengan megahnya di tiang Tujuh Belas. Regu regu pengibar dari tahun 1950 1966 dibentuk dan diatur oleh rumah tangga kepresidenan.


Percobaan Pembentukan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka Tahun 1967 dan Pasukan Pertama Tahun 1968


Tahun 1967, Bapak Hussein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soekarno untuk menangani lagi Pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok, yaitu :


Kelompok 17/Pengiring (Pemandu)


Kelompok 8/ Pembawa


Kelompok 45/Pengawal


Ini merupakan symbol/gambaran dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran Bendera Pusaka dan dengan Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) sebagai pasukan 45.


Pada tanggal 17 Agustus 1968, petugas Pengibar Bendera Pusaka adalah para pemuda utusan propinsi. Tetapi propinsi-propinsi belum seluruhnya mengirimkan utusanya sehingga masih harus ditambahkan oleh eks anggota pasukan tahun 1967.


Tahun 1969, karena Bendera Pusaka kondisinya sudah terlalu tua sehingga tidak mungkin lagi dikibarkan di tiang Tujuh Belas Istana Merdeka, telah tersedia bendera Merah Putih dari bahan bendera (wool) yang dijahit 3 potong memanjang kain Merah dan 3 potong memangjang kain Putih kekuning-kuningan.


Bendera Merah Putih duplikat Bendera Pusaka yang akan dibagikan ke daerah idealnya terbuat dari sutra alam dan alat tenun asli Indonesia, yang warna merah dan putih langsung ditenun menjadi satu tanpa dihubungkan dengan jahitan dan warna merahnya berasal dari cat celup asli Indonesia.
Sumber:kungayau.blogspot.com

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI CIREBON

cbon7
PRA SEJARAH
Menurut Prof. KERN sejak ± tahun 2000 S.M telah terjadi ada perpindahan bangsa tiga kali dari Indo-Cina ke Indonesia.
Menurut Syekh Subakir, seorang pendeta di Keling pada waktu itu, yang berbudi pekerti luhur dan berilmu tinggi, berasal dari Bisanthium / Kerajaan Roma Timur, beribukota di Constantinopel / Istambul ( orang Jawa menyebutnya dengan RUM Turki)
Yang terakhir telah terjadi perpindahan bangsa adalah dari Keling, terdiri dari ± 20.000 keluarga yang di pimpin langsung olehnya mendarat di beberapa tempat di Jawa Barat, terus lambat laun memasuki pedalamannya.    Tempat ini kemungkinan adalah Teluk Jakarta dan Pulo Gadung, yang sekarang menjadi Bandar Sunda Klapa dan akhirnya menjadi Ibukota R.I Jakarta, dipinggir-pinggir kali Cisadane dan Citarum, yang sekarang diantaranya menjadi Kota Bogor, di Pesambangan Gunungjati Cirebon desa Jatimerta di Muara Jati / Alas Konda pantai Laut Jawa yang sekarang masih ada, di Teluk Banten yang sekarang menjadi kota Banten lama, di Pelabuhan Ratu daerah Rawa Lakbok, Banjar dan Ciamis, ini terjadi pada tahun 1 ( satu ) babad Jaman / Anno Jawa, yang sekarang sudah mencapai tahun 1906 Anno Jawa / 1974 M.
Kemudian mereka melalui proses jaman berkembang biak terus sehingga akhirnya pada ± th. 450 M, disuatu daerah Kali Cisadane, daerah Bogor timbulah kerajaan yang tertua di Jawa Barat, Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman.       Disini terdapat batu-batu bersurat yang menceritakannya.      Nama tarumanegara masih terdapat dalam nama Kali Citarum.     Pada dua batu digambar telapak kaki raja tersebut, sebagai penghormatan menjunjung tinggi dan mengharumabadikan raja.     Tercatat pula pada batu itu bahwa Raja Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor sapi kepada pertapa.      Pula diketemukan batu tulis didekat desa tugu / Tanjung Priok, ada tulisan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan menggali saluran sepanjang ± 11 kilometer.   Mungkin untuk pengairan atau pelayaran.   Mata pekasabannya yang terutama adalah pertanian dan subur sekali.
Ada berita pula tentang tarumanegara dari seorang Musafir Cina, Fa Hien namanya.   Dalam pelayarannya pulang dari India ke Negara Cina, ia singgah di Tarumanegara.     Menurut Fa Hien disitu masih memeluk agama Hindu dengan Batara Wisnu sebagai Dewa tertinggi.    Diceritakan pula olehnya, bahwa pada waktu itu sudah ada hubungan dengan antara Tarumanegara dengan  Negara Cina.
RAJA BANJARANSARI
Beberapa abad kemudian tidak ada lagi berita-berita, baru pada kira-kira awal abad ke 7 timbullah daerah kerajaan Banjaransari didaerah Rawa Lakbok, Banjar dan Ciamis. Isatna rajanya sekarang masih ada patilasannya, ialah patilasan Pameradan Ciungwanara, terletak antara Ciamis dan Banjar.
Rajanya bernama Adimulya, waktu kecil disebut Pangeran Lelean. Ini diceritakan oleh leluhur-leluhur turun temurun, bahwa Raja Adimulya memerintah dengan adil dan bijaksana. Waktu itu Banjaransari mengalami jaman ke-emasannya. Rakyatnya tenteram dan makmur. Rakyatnya menganut agama Sang Hiang/Hindu-Budha.
Pelabuhannya yang terutama dan ramai dilabuhi oleh prahu-prahu dan kapal layar dagang dari berbagai negara, ialah yang sampai sekarang disebut pelabuhan Ratu dipantai Lautan Indonesia. Bandar lain-lainnya adalah Teluk-teluk Banten, Sunda Kelapa dan Muara Jati Pasambangan Caruban/Cirebon.
Setelah Raja Adimulya wafat, lalu Raja Ciungwanara, seorang putra sulungnya naik takhta. Kemudian setelah Raja Ciungwanara pemerintahan dilanjutkan oleh seorang putri sulungya, ialah Ratu Purbasari ini membangun dan memindahkan ibukotanya ke Pakuan sekitar Bogor dan negaranya beralih nama dengan nama Pajajaran. Dalam pemerintahannya  telah ditemukan makanan pokok lagi, ialah padi. Sebelumnya makanan pokok rakyat Pajajaran adalah juwawut. Pulau Jawa dulunya dinamakan Jawa Dwipa, yang berarti negara Jawa, juga Jawa Dwipa itu diartikan dengan Jawa Dwipadi, yang berarti jawawut adalah dwitunggalnya padi (jawawut loroning pari). Ini suatu petunjuk disamping jawawut adalagi semacam makanan yang bernama padi. Ternyatalah dalam pemerintahan Ratu Purbasari padi itu diketemukan.
Kemudian setelah Ratu Purbasari, berturut-turut naik takhta putra-putra ketturunannya, ialah :
  • Raja Linggahiang
  • Raja Linggawesi
  • Raja Wastukencana
  • Raja Susuktunggal
  • Raja Banyaklarang
  • Raja Banyakwangi
  • Raja Mundingkawati
  • Raja Anggalarang Dan
  • Prabhu Siliwangi
Prabhu Siliwangi ini menikahi seorang putri mangkubumi Singapura/Mertasinga Caruban bernama Rara Subang Larang, yang telah memeluk agama Islam dan beberapa tahun mesantren di Pengguron Islam Syekh Kuro Karawang, dengan syarat menikah secara Islam, yang mana Syekh Kuro yangbertindak sebagai Penghulunya dan didudukan di Kraton Pakuan Pajajaran sebagai Permaisuri dan diperkenankan tetap melakukan sembahyang lima waktu. Permaisuri Rara Subang Larang dari Prabhu Siliwangi dianugrahi tiga orang putra, ialah :
  • Pangeran Walangsungsang Cakrabuana
  • Ratu Mas Lara Santang dan
  • Pangeran Raja Sengara/Kian Santang
Ketiga putra inilah cikal bakal dan purwanya sebagian besar rakyat Pajajaran memeluk Agama Islam. Dan akhirnya Pajajaran agama Sang Hiang/Hindu-Budha lenyap dari muka bumi sebagai negara dan diteruskan oleh Caruban/Cirebon sebagai negara yang beragama Islam. Dengan perkataan lain Pajajaran adalah awal Cirebon, Cirebon adalah akhir Pajajaran. Pula Cirebon jadi kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa dan Demak adalah kerajaan Islam keduanya.
Pada tahun 1479 Masehi Sunan Gunung Jati Syekh Syarif Hidayatullah dengan restu Pangeran Cakrabuana dan Dewan Wali Sanga yang diketuai oleh Sunan Ampel telah memberhentikan hulu bekti/upeti kepada Pajajaran, yang berarti Cirebon pada waktu itu telah memplokamirkan kemerdekaannya, sedangan Demak baru setelah jatuhnya Majapahit yang terakhir pada tahun 1517 Masehi, dengan dinobatkannya Pangeran Patah sebagai Sultan Demak yang pertama oleh Dewan Wali Sanga yang diketuai oleh Sunan Gunung Jati Syekh Syarif Hidayatullah setelah Sunan Ampel Wafat.
MASUKNYA AGAMA ISLAM DI INDONESIA, KHUSUSNYA DI JAWA BARAT
Pada tahun 1302 Anno Jawa dipantai Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan Kerajaan Pajajaran yang masing-masing dikepalai oleh seorang Mangkubumi. Ketiga daerah otonom itu adalah :
  1. Singapura/Mertasinga yang dikepalai oleh Mangkubumi Singapura
  2. Pasambangan, yang dikepalai oleh Ki Ageng Jumajan Jati dan
  3. Japura, yang dikepalai Ki Ageng Japura.
Ketiga otonoom ini mengirimkan hulu bekti/upeti saban tahunnya kepada Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Disebelah ( ± 18 Km dari kota Cirebon ekarang ) ada sebuah kerajaan kecil yang disebut Kerajaan Raja Galuh, dengan kepala negaranya bernama Prabu Cakraningrat.   Kerajaan ini meliputi pula Palimanan dengan Mangkubuminya Dipati Kiban.
Daerah Palimanan kebetulan perbatasan dengan daerah otonom Pasambangan / Caruban Larang ( Caruban Pantai / Pesisir dan Caruban Girang ).
Caruban Larang mempunyai pelabuhan yang sudah ramai dan mempunyai sebuah mercu suar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar yang singgah dipelabuhan yang disebut Muara Jati ( sekarang disebut Alas Konda ).
Pelabuhan ini ramai disinggahi oleh perahu-perahu pedagang dari berbagai negara, terutama ketika Ki Ageng Tapa sebagai Syah Bandar Pelabuhan tersebut, diantaranya : pedagang dari Arab, Persi, India, Malaka, Tumasik ( Singapore ), Paseh, Wangkang / Negara Cina, Jawa Timur, Madura, Palembang dan Bugis / Sulawesi dll.
Sebelah timur dari Pasambangan ( ± 5 Km ) ada sebuah daerah pantai yang luas, yang disebut “ Kebon Pesisir “ oleh karena Kebon Pesisir ini berbatasan dengan Palimanan, maka Kebon Pesisir ini diakui pula sebagai daerah jajahan Kerajaan Galuh.    Daerah ini sudah ada penghuninya, ialah seorang nelayan yang bernama Ki danusela, yang nantinya disebut Ki Gedheng Alang-alang, Kuwu Caruban pertama.      Setelah seorang putera mahkota terakhir dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang bernama Pangeran Cakrabuana beserta adik dan istrinya yang telah memeluk agama Islam yang masing-masing bernama Rara Santang dan Indhang Ayu membangun sebuah dukuh di Kebon Pesisir ini, yang semula kelak disebut “ Syarumban “ yang artinya pusat / centrum dari percampuran penduduk dari berbagai daerah, yang mana selanjutnya disebut “ Caruban “ , Carbon, Cerbon, Crebon, yang kemudian Cirebon oleh penduduknya Negara Gede yang kemudian diucapkan menjadi Grage, sedangkan oleh para Wali Sanga Cirebon disebut Negara Puser Bumi, negara yang terletak di tengah-tengah Pulau Jawa.
Membangun dukuh ini terjadi pada 1 SURA 1445 M. oleh Pangeran Cakrabuana.    Tahun ini didapat dari sejak keluarnya Pangeran Cakrabuana beserta adiknya dari Istana Pakuan Pajajaran pada tahun 1442 M, selama 9 bulan dalam perkelanaannya dan Pangeran Cakrabuana waktu berguru dipengguron Islam Syekh Nurul Jati di Gunung Amparan Jati 2 tahun.
Tak lama kemudian setelah Caruban dibawah pemerintahan Pangeran Cakrabuana ( sebagai Embah Kuwu Caruban II, bergelar Cri Mangana ) Ibukota Caruban Larang ialah Pesambangan pindah ke Caruban , sejak Ki Ageng Tapa mangkubumi singapura wafat, juga secara lambat laun Pelabuhan Muara jati pun berpindah ke Pelabuhan Cirebon yang sekarang disebut Pelabuhan Tanjung Mas.      Dari sinilah kami, Lembaga Kebudayaan Wilayah III Cirebon, berpegang kepada datum ( titi mangsa ) dari Hari Jadi / Hari Mula Jadi Cirebon sekaligus untuk Kotamadya Cirebon dan seluruh Wilayah Cirebonpada 1 SURA 1302 Anno Jawa.   Dengan sendirinya Cirebon sekarang berusia 603 tahun yaitu dari 1 Suro 1302 A.J. – 1906 A.J.
Pada tahun 1479 M. Pangeran Cakrabuana sebagai Penguasa Cirebon yang bersemayam di keraton Pakungwati Cirebon menyerahkan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati ( Sinuhun Jati Purba ) seorang kemenakan dan menantu Pangeran Cakrabuana dari Ibu Ratu Mas Rara Santang yang bersuamikan seorang Sultan Mesir yang bernama Sultan Makhmud Syarif Abdullah, seorang keturunan ke 21 dari Nabi Muhamad s.a.w .      Pada tahun ini juga Sunan Gunung Jati memberhentikan hulu bekti / upeti kepada Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Sejak inilah Cireon menjadi negara merdeka yang bercorak Islam.    Pula negara Cirebon menjadi negara bercorak Islam ini disempurnakan kedaulatannya dengan dikalahkan perangnya Raja galuh oleh caruban pada tahun 1528 M.
Setelah wafatnya Prabhu Siliwangi pada tahun 1482 M. takhta kerajaan jatuh kepada Pangeran Cakrabuana sebagai putera mahkotanya.     Pangeran Cakrabuana menyerahkan takhta kerajaan tersebut kepada Sunan Gunung Jati.     Sejak inilah kedaulatan Kesultanan Cirebon yang bercorak Islam itu merata kesegenap bekas wilayah Pajajaran dengan kata lain Pajajaran adalah awal Cirebon dan Cirebon adalah akhir Pajajaran.
Bukti-bukti atau data-datanya hingga sekarang masih ada di Astana Gunung Jati Cirebon, diantaranya adalah : sebuah mande Pajajaran / sebuah balai besar yang ditengahnya bercokol / berdiri sebuah kursi singgasana Kerajaan dimana sang Prabhu, saban-saban kala waktu para menteri, para panglima, para pemuka rakyat membicarakan dan memutuskan soal-soal kenegaraan dengan  para pemuka rakyat dan para Wiku pula sebuah lampu kerajaan istana pakuan Pajajaran, yang mana data-data tersebut berusia lebih dari 500 tahun, dan lampu kerajaan Pakuan Pajajarn ini mempunyai arti simbolik ialah merupakan Nur / Cahaya yang bermakna souverainitas / kedaulatan Kerajaan Pajajaran sejak itu diteruskan oleh Cirebon.
Pada tahun 1526 M. dibangunlah protektorat Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati dengan kepala negaranya pangeran Sebakingkin bergelah Sultang Hasanuddin, seorang putera Sunan Gunung Jati dari ibu seorang puteri Banten.    Setelah wafatnya Sunan Gunung Jati pada tahun 1568 M. barulah Banten merdeka dan berdaulat.
Siasat strategi penyebaran Agama Islam dari misi-misi Islam, yang kebanyakan tokoh-tokoh misi-misi Islam ini adalah keturunan dari Nabi Muhammad s.a.w telah lama direncanakan meluas ke Asia khususnya Asia Tenggara, setalh kholifah-kholifah 4 dari Nabi Muhammad s.a.w dan wafatnya Wali Khutub Syekh Abdul Kadir Jaelani untuk daerah magrib / daerah barat yang berkedudukan di Bagdad, para tokoh-tokoh misi-misi Islam ini menghendaki mengangkat seorang Wali Khutublagi di daerah Masrik / daerah timur ialah Sunan Gunung Jati ( Syekh Syarif Hidayatullah ) berkedudukan di Cirebon.
Tentu saja perjalanan para tokoh para misi Islam ini dengan perahu-perahu para pedagang yang menyinggahi di berbagai tempat, misalnya di Gujarat Pantai Koromandel, Semenanjung Melayu, Paseh, Cempa, Tumasik, Jawa Timur dll.    Tokoh-tokoh misi-misi Islam ini di Jawa di sebut Wali pada umumnya dan “ wali sanga “ pada khususnya.      Justru pulau Jawalah yang harus dikepung oleh tokoh-tokoh misi-misi Islam, oleh karena pulau Jawa ada dua kerajaan besar dan kuat, yaitu Majapahit dan Pajajaran, yang bercorak bukan Islam ( Hindu – Budha ), yang kekuasaannya berdasarkan agama tersebut meliputi seluruh nusantara,   Pengepungan terjadi di utara di Semenanjung Melayu, di Barat Kesultanan Aceh dan Palembang, di timur Kalimantan dan Sulawesi.
Setelah tokoh-tokoh dan misi-misi Islam ini myerasa pengepungannya sudah kuat, maka beberapa tokoh-tokoh misi-misi Islam ini menerobos masuk ke pulau Jawa seperti Syekh Kuro di Krawang, Syekh Nurul Jati di Gunung Jati dan Sunan Ampel Dhenta di Ampel Gading Surabaya.
Sumber:https//datakata.wordperss.com

elaki Dengan 4 Istri

 
 
 
 
 
 
24 Votes

lelaki-dengan-4-istri
ISTRI ke-1 : Tua dan biasa saja, biasanya tidak diperhatikan.
Istri ke-2 : Agak cakep, agak diperhatikan.
Istri ke-3 : Lumayan cakep dan cukup diperhatikan.
Istri ke-4: Sangat cakep, sangat diperhatikan dan disanjung-sanjung serta diutamakan!
Waktu pun berlalu begitu cepat dan tibalah saat sang lelaki (suami) tersebut mau meninggal, lalu dipanggilah 4 (empat) orang istrinya.
Dipanggilah istri ke-4 yang paling cakep dan ditanya, “Maukah ikut menemaniku ke alam kubur ?”
Si istri menjawab., “Maaf, cukup sampai di sini saja saya ikut denganmu.”
Saat dipanggil istri ke-3 dan ditanya hal yang sama, dia pun menjawab, “Maaf, saya hanya akan mengantarmu sampai di kamar mayat dan paling jauh sampai di rumah duka.”
Kemudian dipanggil istri ke-2 dan ditanya hal yang sama, maka dia pun menjawab, “Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu selamat tinggal.”
Si Suami sungguh kecewa mendengar semua itu. Tetapi inilah kehidupan dan menjelang kematian.
Lalu dipanggil lah istri ke-1 dan ditanya hal yang sama, si suami tak menyangka akan jawabannya, “Saya akan menemani ke manapun kamu pergi dan akan selalu mendampingimu…”
Mau tahu apa dan siapa istri ke-1 sampai ke-4 itu?
Istri ke-4 adalah “harta dan kekayaan”. Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.
Istri ke-3 adalah “teman-teman” kita. Mereka hanya akan mengantar jasad kita hanya sampai di saat disemayamkan.
Istri ke-2 adalah keluarga, famili, saudara dan teman dekat kita.
Mereka akan mengantar kita sampai dikuburkan, dan akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.
Istri ke-1 adalah “tindakan dan perbuatan” kita selama hidup di dunia. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
Berbuatlah sebanyak mungkin kebaikan, kebajikan selama kita masih hidup di dunia ini, dalam sisa hidup, selagi waktu masih ada.
Terbukti ampuh! Langsing dalam 7 hari dengan 7 Day Slim Platinum. Cek diwww.7dayslimplatinum.com
Sumber:https//iphincow.com 

Sejarah Wayang Kulit dan Perkembangannya

Sudah lebih dari satu dekade sejak dinobatkannya kesenian wayang kulit sebagai “Masterpiece” kebudayaan dunia. Konsekuensi logis dari adanya pengakuan UNESCO terhadap Seni Pertunjukkan Wayang Indonesia, maka Kementrerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 26 Januari – 2 Februari 2004 lalu telah melaksanakan kegiatan sosialisasi wayang ke luar negeri yaitu ke Prancis, yang digelar di Kota Bordeaux, Nancy (perbatasana dengan Jerman) dan Kota Strassbourg dan terakhir di Kota paris. Kini 12 tahun sudah berlalu sejak hari itu, dan wayang kulit menjadi warisan budaya yang sudah mendunia.
Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan yang berasal dari kebudayaan jawa dan sangat terkenal. Hal ini dikarenakan pertunjukan wayang sangat sarat dengan unsur estetika dan pesan moral yang terkandung di dalam setiap pertunjukannya. Ada dua pendapat berbeda yang menjelaskan makna kata wayang, yang pertama berasal dari kata “Ma Hyang” yang berarti roh spiritual, dewa , atau Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan pendapat lainnya berasal dari bahasa jawa yang berarti bayangan. Hal ini dikarenakan, dalam pertunjukan wayang kita hanya melihat bayang bentuk dari wayang kulit yang dimainkan.
Wayang kulit sendiri merupakan kekayaan budaya yang bernilai tinggi karena selain merupakan sebuah seni kriya (baca : fungsi seni kriya), pertunjukan wayang kulit mampu menggabungkan berbagai macam kesenian seperti seni sastra, seni musik, dan seni rupa. Seni sastra dari pupuh yang diucapkan oleh dalang , Seni musik dari lantunan berbagainama alat musik tradisional, dan seni rupa dari visualisasi wayng kulit yang unik dan khas budaya Indonesia.
Populer di daerah sekitar provinsi jawa tengah dan jawa timur, kini kesenian wayang kulit telah di kenal di dunia mancanegara. Di bawa oleh Ki Purbo Asmoro, wayang kulit mulai populer di beberapa negara di Asia hingga Eropa. Seperti negara perancis, Inggris, Austria, Yunani, Jepang, Thailand, Singapura, Amerika, Bolivia dan masih banyak lagi. Namun sebelum sampai ke era kepopulerannya di masasekarang
Berikut adalah ulasan sejarah wayang kulit dan perkembangannya :
  • Sejarah wayang kulit dan Kebudayaan hindu budha
Sejarah wayang kulit tidak terlepas dari sejarah kesenian wayang secara umum. Bila dilihat dari catatan sejarah, belum ada bukti konkret tentang adanya kebudayaan wayang sebelum abad pertama. Hal ini bertepatan dengan masuknya budaya Hindu dan Budha ke Asia Tenggara. Hipotesis ini semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa seni pertunjukan wayang kulit mayoritas mengangkat cerita Ramayana dan Mahabarata. Walaupun itu juga bukan merupakan standard yang bisa mengikat dalang. Karena dalam setiap pertunjukannya dalang boleh saja membuat pertunjukan dari lakon carangan (gubahan).
Sumber:ilmuseni.com

Rabu, 15 Maret 2017

Pupuk Alami

Perangsang Buah I
Bahan:
  1. EM 4 1 liter
  2. Kuning telur ayam kampung 3 butir
Cara Pembuatan:
Bahan dicampur lalu dikocok sampai rata, kemudian difermentasi selama 24 jam.
Aturan penggunaan:
Setiap akan digunakan, kocok 1 sendok makan ditambah 5 liter air, lalu disemprotkan.
Fungsi:
  1. Merangsang pertumbuhan bunga calon buah / biji.
  2. Membuat buah beraroma dan manis rasanya.
  3. Membuat biji menjadi bernas / mentes

Perangsang Buah II
Bahan:
  1. Susu segar mentah 1 liter
  2. Kuning telur ayam kampung 3 butir
Cara Pembuatan:
Bahan dicampur lalu dikocok sampai rata, kemudian difermentasi selama 24 jam.
Aturan penggunaan:
Setiap akan digunakan, kocok 1 sendok makan ditambah 5 liter air, lalu disemprotkan.
Fungsi:
  1. Merangsang pertumbuhan bunga calon buah / biji.
  2. Membuat buah beraroma dan manis rasanya.
  3. Membuat biji menjadi bernas / mentes.

Pupuk Daun / Buah
Bahan:
  1. Kuning telur ayam kampung 3 butir
  2. Gula jawa ¼ kg
  3. Susu murni segar ½ gelas
Cara Pembuatan:
Semua bahan dicampur dan diaduk secara merata kemudian ditambahkan 30 liter air.
Kegunaan:
Hasil dari komposisi disemprotkan pada tanaman hingga merata.

Pupuk KCL Cair
Bahan:
  1. Air
  2. Sabut kelapa secukupnya
  3. Drum (diperlukan untuk merendam bahan)
Cara pembuatan:
Masukkan sabut kelapa ke dalam drum sampai setengahnya. Setelah drum diisi sabut kelapa berilah air sampai penuh. Tutuplah rapat-rapat dengan plastik. Biarkan drum tertutup selama 2 minggu. Setelah air berubah menjadi berwarna hitam pertanda air sudah melarutkan kandungan KCL pada sabut kelapa. Air tersebut sudah siap digunakan, jika airnya sudah habis dapat ditambah air sehingga air berwarna jernih.
Cara penggunaan:
Disemprotkan atau disiramkan pada tanaman.
Fungsi:
Batang dan akar tanaman akan menjadi kuat, biji akan lebih berisi dan berwarna cerah. Untuk buah akan berwarna harum dan rasanya manis.

PUPUK
Nitrogen
Sumber:
  • Azzola
  • Tumbuhan kacang-kacangan
  • Jerami (daun hijau)
  • Kotoran hewan / manusia
Fungsi:
  • Menghijaukan daun
  • Membuat bentuk akar, daun dan batang menjadi muda

Phospat
Sumber:
  • Ampas tebu
  • Kotoran hewan / manusia
  • Sampah organik
  • Kompos
  • Azzola
  • Abu dapur
Fungsi:
  • Memperkuat akar dan batang
  • Memacu bunga agar cepat berbuah
  • Menjadikan rasa buah lebih manis

Kalium
Sumber:
  • Pelepah / batang pisang
  • Kotoran ayam
  • Urine kambing, kelinci, dan manusia
  • Abu kayu
  • Sampah organik, misalnya kulit pisang, umbi-umbian, dan lain-lain
Fungsi:
  • Memperkuat akar dan batang
  • Memacu bunga agar cepat berbuah atau mengeluarkan biji
  • Membuat biji / bulir menjadi bernas
  • Menjadikan rasa buah atau umbi lebih manis

Urine (Pupuk Cair)
Bahan:
  • 100 liter urine
  • 300 cc tetes tebu / air gula jawa / air gula pasir
  • 0, 5 kg temu ireng dalam bentuk serbuk / ekstrak
  • 0, 5 kg lawak dalam bentuk serbuk / ekstrak
  • 0, 5 kg laos dalam bentuk serbuk / ekstrak
  • 0, 5 kg kunyit dalam bentuk serbuk / ekstrak
Cara pembuatan:
Semua bahan dicampur dan difermentasi selama 21 hari
Kegunaan:
5-10 cc / 2 sendok makan + 15 liter air, pada daun dengan cara disemprotkan, pada akar dengan cara disiramkan / dikocor.
Urine Kelinci:
Perbandingannya 1 : 13 liter air, kemudian disiramkan / dikocor pada tanaman.

Bokashi
Bahan:
  1. Kotoran ayam / sapi / kambing 500 kg
  2. Sekam padi / gergajian kayu 500 kg
  3. Bekatul 20 kg
  4. Abu dapur / abu sekam padi 30 kg
  5. Gula pasir 15 ons
  6. EM4 / mikroorganisme nabati secukupnya
  7. Air secukupnya
Cara pembuatan:
Semua bahan dicampur jadi satu dan diaduk supaya merata sambil dibasahi dengan air yang dicampur gula pasir dengan mikroorganisme nabati, sehingga bahan menjadi lembab. Tutup dengan plastik / tenda agar bokashi mengalami fermentasi. Proses fermentasi sangat membutuhkan air, udara, dan panas. Proses fermentasi ini normal terjadi dalam jangka waktu selama 14-21 hari dengan suhu 40-50°C (dijaga kestabilannya). Bila melebihi dari 50°C tenda dibuka dan bahan diaduk-aduk hingga panas stabil lalu ditutup kembali. Lebih baik setiap 5 jam bahan dibuka untuk mengetahui suhunya. Bila kurang panas, atau kurang dari 40°C disemprot dengan air yang dicampur gula dan mikroorganisme nabati. Begitu seterusnya sehingga bahan bokashi tidak berbau kotoran dan kalau dipegang sudah tidak panas lagi, artinya bahan ini sudah dapat digunakan.
Cara penggunaan:
Untuk tanaman padi, palawija, sayuran dan tanaman hias sebagai pupuk dengan dosis 1-1, 5 ton / Ha. Andaikan tanahnya terlalu liat dapat ditingkatkan menjadi 2 ton / Ha.

Pupuk Daun
Bahan:
  • Urine kelinci 5 liter
  • Terasi 10 gram
  • Jahe 1 ons
  • Kunyit 1 kg
  • Susu 1 liter
  • Gula jawa 1 kg
Cara pembuatan:
Semua bahan dicampur dan disaring, kemudian difermentasikan selama 10 hari. Setelah itu selama 2 hari berikutnya tiap 2 jam dibuka. 2 hari berikunya tiap 2 jam dibuka. 3 hari berikutnya 2 jam dibuka.

Pupuk Bunga
Bahan:
  • Nanas 2 buah
  • Gula jawa 1 kg
  • Air 5 liter
Cara pembuatan:
Semua bahan dimasak dengan suhu api sedang, kemudian didiamkan hingga dingin. Lalu masukkan ke dalam jerigen dan difermentasikan.
 Sumber:https//adhisuryaperdana.wordpres.com